Latest Post

Senin, 02 April 2012

|0 komentar

Selasa, 20 Maret 2012

|0 komentar
Serpih Kenangan

segalanya akan menjadi lebih menyakitkan
saat aku berani menepis sesuatu yang kuanggap firasat
sungguh, tiap yang kuanggap aman
tiap jalan yang tak kuanggap menyimpang
merupakan kelindan labirin
aku menduga, bahwa kamu berfikir aku akan membuat undangundang
pistol dan pisau kusilangkan di pinggang
mengawasimu iniitu
mengingatkan sesuatu yang luput dari jadwal ataupun ingatan
hingga waktu aku tak bertugas sebagaimana biasa
maka anggur ditumpahkan dan kau bersulang

Selasa, 08 Desember 2009

masalah 1

|0 komentar

MASALAH (1)
TEKNIS PENGEMBANGAN (1)
Bila seorang Muslim tidak mau Shlat apa jadinya: a) kerja keras mencegah hawa napsu b) kerja keras seorang islam c) menjaga etika d
d) menjaga nama baik muslim
Apa akibatnya bila seorang muslim tidak mau shlat.
- Apa akibatnya jawab: akan mendapatkan siksa Allah
- Akibatnya bila seorang muslim tidak melaksanakan perintah allah jawab: tidak akan mendapat rahmat allah
-apa akibatnya serang muslim itu tidak berthaubat kepada allah jawab: tidak akan masuk surga
- apa akibatnya seorang muslim itu tidak berrusaha thabat jawab :maka akan celoa
MASALAH (2)
TEKNIS PENGEMBAN (2)

Muslim tidak salat
- Kenapa muslim tak shlat jawab :bayak godaan
- Kenapa seorang muslin tidak mencegah napsunya dengan baik :jawab kerena muslim tidak tahu tatacara muslim yangbaik
- kenapa tidak tahu jawab: karena tida mau belajar

Kamis, 26 November 2009

jenal_tugas hari ke3

|0 komentar
MENURUT IMAM AL-GHAZZALI ILMU BUKAN HANYA DICATAT TAPI HARUS DIPAHAMI

Suatu ketika al-Ghazzali melakukan perjalanan panjang. Dalam perjalanannya itu ia membawa serta seluruh buku bacaannya. Konon di tengah jalan tiba-tiba datang segerombolan orang merampok seluruh bawaan al-Ghazzali, termasuk buku-bukunya. Padahal ia belum membaca seluruh isi buku itu. Yang telah ia baca pun belum seluruhnya dihafal.
Kejadian itu benar-benar telah menyadarkan al-Ghazzali, bahwa ilmu itu ada di dalam dada dan bukan dalam tulisan (al-‘ilm fi-s-sudur la fi-s-sutur). Sejak kejadian itu al-Ghazzali bertekad untuk selalu mengingat apa yang telah ia baca. Yang menarik tentu bukan peristiwa perampokannya, tapi kesimpulan al-Ghazzali tentang letak ilmu. Benarkah mengetahui dan pengetahuan itu ada di dalam dada? Apa bedanya ilmu dari ma’rifah.
Bicara ilmu adalah bicara obyeknya (realitas atau wujud) dan luas obyek ilmu adalah seluas realitas atau wujud. Maka dari itu realitas bagi Ghazzali dan juga para ulama adalah empiris dan non

empiris. Realitas empiris pun dibagi sekurangnya menjadi tiga : realitas individual, realitas pembicaraan, dan realitas pikiran. Yang pertama adalah wujud yang riel dan empiris, yang kedua adalah wujud dalam pembicaraan yang bersifat verbal dan indikatif, dan yang ketiga adalah wujud dalam pikiran yang bersifat kognitif dan formal. Diatas dari segala realitas tersebut diatas adalah Realitas Mutlak atau Wujud Mutlak.
Lalu bagaimana proses mengetahuinya? Bagi al-Ghazzali untuk realitas empiris dimulai dari kajian terhadap hal-hal yang khusus yang dapat dipahami dan dikomunikasikan dengan bahasa. Ketika wujud individual difahami oleh akal kita, bentuk (surah) dari realitas individual tersebut tercetak dalam mata, lalu pada imaginasi kita dan kemudian menjadi wujud dalam pikiran kita. Ketika bentuk realitas atau wujud individual itu hadir dalam pikiran, ia menjadi ilmu, sebab obyek yang diketahui berhubungan dengan representasi dalam pikiran tersebut, persis seperti bayangan kita yang tercermin dalam kaca.
Jadi proses mengetahui mengharuskan adanya tiga hal yaitu: obyek ilmu pengetahuan, penerima dan proses kognisinya yang melibatkan penginderaan. Ketika realitas atau wujud empiris ada dalam pikiran ia tetap bernama realitas. Demikian pula keimanan yang tidak empiris di dalam dada itu dapat disebut realitas juga. Jika realitas empiris – melalui proses – dapat tercermin dalam pikiran, maka Realitas Mutlak atau Wujud Mutlak, yaitu Tuhan dapat pula tercermin dalam diri manusia.
Dengan jalan empiris saja manusia telah dapat mengetahui dirinya sendiri, alam semesta dan Tuhannya. Wujud Tuhan dapat diketahui secara indukif dari ciptaanNya. Ilmu-ilmu empiris itu tentang ciptaan Tuhan itu merupakan aspek-aspek yang saling berhubungan dan membentuk kesatuan. Pada maqam yang tertinggi orang akan sampai pada pandangan bahwa realitas dan kebenaran itu hanya satu dan tidak plural. Artinya dalam akalnya hanya ada satu realitas atau wujud, yaitu Wujud Mutlak, Aktor (fa’il) dari segala wujud yang plural yang nisbi.
Jikapun tidak dengan jalan empiris Tuhan dapat diketahui dengan mata hati. Sebab dalam diri manusia telah terdapat naluri (fitrah) mengenal tuhan (ma’rifatullah). Naluri itu diciptakan oleh Tuhan sebelum manusia lahir melalui syahadah awal (mithaq). Syahadah inilah bekal manusia memperoleh ma’rifah. Nietzsche menuduh fitrah ini hanya pikiran dan khayalan. Dan khayalan itu, menurutnya, harus dibunuh agar orang dapat berfikir saintifik. God is dead artinya fitrah itu telah mati. Memang pengetahuan tentang ini bagi al-Ghazzali tidak dimiliki orang awam, termasuk Nietzsche. Pengetahuan tentang Tuhan dengan jalan non-empiris dicapai dengan mata hati yang penuh cinta. Dalam Ihya ia menyatakan:”…metode terbaik untuk memperoleh kebenaran dan sekaligus kecintaan pada Allah adalah dengan metode deduktif dari ma’rifah tentang Allah kepada pengetahuan tentang realitas.

Selasa, 24 November 2009

Tugas hari ke 2

|0 komentar
Ratapan dalam Duka

Tak akan lagi aku sanggup Mengepak saya mengitari bumi Menyibak kabut di pagi Sungguh aku tak akan sanggup Walau hanya memandang dunia Sebab badan ini Menanggung...
Luka hati

Aku disini terdiam Tersentak tanpa kata Seakan dunia gelap oleh kabut Seolah cahaya hilang di telannya Ku mencintai bukan membenci Ketika ku coba untuk memahami Arti...
Puisi sedih yang lain
Kategori Puisi Umum
Hadirmu Untukku

Dulu ku yakin ku bisa menggapai dunia.. Saat ku rapuh kupulihkan sendiri semuanya.. Namun semua hanya ego ku semata.. Aku tak bisa menapaki ujung samudra.. Sekarang...
Harus Bagaimana, Kasih?

Harus bagaimana kasih..? terhadap rasaku padamu, aku mengaku kalah.. harus bagaimana kasih..? terhadap rinduku padamu, aku takluk.. harus bagaimana kasih..? terhadap...
Kata Hati

Egois Kata yang berpacu dalam jantung Menerkam semua aliran darah ku Bertempur dengan amarah ku Berperang dengan semua perasaan ku, Egois, Indah nya sebuah kata...
sosial